Suku Banjar, yang sebagian besar mendiami Kalimantan Selatan, memiliki perpaduan budaya yang unik dan kaya. Meskipun sangat kental dengan ajaran Islam, akar tradisi dan kepercayaan lokal dari nenek moyang masih mewarnai Budaya Adat Banjar hingga kini. Keunikan inilah yang jarang terungkap ke permukaan.
Salah satu fakta menarik adalah kuatnya konsep “sawan” dan tradisi “Tolak Bala.” Masyarakat Suku Banjar tradisional meyakini adanya pengaruh buruk yang bisa menyebabkan penyakit atau malapetaka. Untuk menangkalnya, mereka menggunakan benda seperti gelang dari buah sawan atau kalung berisi wafak (rajah).
Keunikan arsitektur terpancar jelas pada Rumah Adat Banjar, terutama jenis Rumah Bubungan Tinggi. Atapnya yang sangat tinggi dan curam bukan sekadar desain, melainkan simbol filosofis. Atap ini mencerminkan orientasi kekuasaan ke atas, melambangkan perlindungan dari Tuhan.
Ornamen pada Rumah Bubungan Tinggi juga sarat makna. Misalnya, ukiran Rumbai Pilis yang bermotif daun jaruju, dipercaya berfungsi sebagai penangkal bala. Seluruh detail arsitektur kayu ulin ini menunjukkan kearifan lokal dalam menjaga keselamatan dan keindahan secara spiritual.
Dalam seni wastra (kain), Suku Banjar terkenal dengan Kain Sasirangan. Kain ini bukan hanya sekadar pakaian, tetapi awalnya digunakan untuk tujuan pengobatan atau ritual adat. Motifnya pun memiliki makna simbolis, seperti motif kambang kacang yang melambangkan kekeluargaan yang erat.
Proses pembuatan Kain Sasirangan sangat khas. Tekniknya melibatkan menjahit jelujur dan mengikat sebelum dicelup, yang dalam bahasa Banjar disebut menyirang. Nama sasirangan sendiri berasal dari kata sirang atau manyirang, menunjukkan metode pembuatan yang unik ini.
Di bidang sastra lisan, Suku Banjar kaya akan Hikayat dan cerita rakyat. Kisah-kisah ini seringkali dibumbui dengan tokoh yang memiliki kesaktian dan mengandung amanat moral yang kuat. Kekayaan literasi ini menjaga nilai-nilai luhur Budaya Adat Banjar secara turun temurun.
Selain tradisi, masyarakat Banjar juga terkenal dengan hidangan kuliner yang khas, seperti Ketupat Kandangan. Makanan ini menunjukkan adaptasi budaya maritim dan sungai mereka, dengan penggunaan ikan gabus (haruan) sebagai lauk utama yang diolah dengan santan kental.
Secara keseluruhan, Budaya Adat Banjar adalah permata Nusantara yang memadukan keimanan Islam yang kuat dengan warisan tradisi pra-Islam. Menjelajahi fakta-fakta unik ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang kekayaan sejati masyarakat Kalimantan Selatan.