Potensi Eksportasi Rasa Sambal Acan Raja Banjar dan Kue Bingka.

Provinsi Kalimantan Selatan, dengan kekayaan rempah dan warisan kuliner yang unik, memiliki peluang besar untuk membawa rasa otentik lokal ke panggung dunia. Melalui hidangan ikonik seperti Sambal Acan Raja Banjar dan Kue Bingka, terdapat Potensi Eksportasi yang sangat menjanjikan, tidak hanya sebagai duta budaya, tetapi juga sebagai sumber devisa yang signifikan. Pemanfaatan kearifan lokal ini untuk pasar global merupakan langkah strategis dalam mencapai Kemandirian Finansial bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah tersebut.

Sambal Acan Raja Banjar, dengan ciri khasnya yang menggunakan terasi (acan) bakar dan campuran belimbing wuluh, menawarkan profil rasa yang pedas, asam, dan gurih yang berbeda dari sambal kemasan di pasaran internasional. Sementara itu, Kue Bingka, dengan teksturnya yang lembut dan rasa manis legit dari santan, gula merah, atau kentang, memiliki daya tarik sebagai kudapan (dessert) unik yang dapat bersaing dengan makanan penutup global lainnya. Mengubah produk yang semula hanya dipasarkan di pasar tradisional seperti Pasar Terapung Siring, Banjarmasin, menjadi komoditas ekspor memerlukan standardisasi kualitas, keamanan pangan, dan strategi pemasaran yang cerdas.

Untuk merealisasikan Potensi Eksportasi ini, upaya serius telah dilakukan di tingkat daerah. Sejak Januari 2025, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi telah menggandeng Balai Besar Pengujian Mutu Barang (BBPPMB) untuk menyelenggarakan program sertifikasi HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) dan BPOM khusus bagi 50 produsen sambal dan kue Bingka terpilih. Pelatihan intensif yang dilaksanakan pada Rabu, 5 Maret 2025, di Kota Banjarbaru ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengemasan, memperpanjang masa simpan produk hingga minimal 6 bulan, dan memastikan kepatuhan terhadap regulasi impor internasional.

Aspek logistik dan rantai pasok juga menjadi kunci. Potensi Eksportasi produk pangan Banjar difokuskan pada pasar yang memiliki diaspora Indonesia besar, seperti Malaysia, Singapura, dan Belanda. Misalnya, pengiriman kontainer pertama Kue Bingka kemasan vakum ke Kuala Lumpur berhasil dilakukan pada Selasa, 22 April 2025, melalui Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, dengan total volume 2 ton. Keberhasilan pengiriman ini membuktikan kelayakan produk dalam menghadapi tantangan logistik lintas negara.

Lebih lanjut, dukungan pembiayaan juga turut serta. Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Wilayah telah meluncurkan program Pemberdayaan Klaster UMKM Pangan Ekspor yang memberikan pinjaman lunak dan pendampingan pemasaran digital kepada produsen. Program ini memastikan bahwa modal bukanlah hambatan, sehingga UMKM dapat berinvestasi pada peralatan produksi modern dan berkapasitas tinggi. Dengan demikian, Potensi Eksportasi kuliner Banjar tidak hanya akan mendongkrak devisa, tetapi yang lebih penting, akan menciptakan sumber pendapatan berkelanjutan dan mempercepat akselerasi Kemandirian Finansial masyarakat.