Penerapan tilang elektronik (ETLE) diharapkan bisa mendisiplinkan pengendara dan mengurangi pelanggaran lalu lintas. Namun, di banyak kota, fenomena tingginya pelanggaran menjadi sorotan. Pertanyaan besar yang muncul adalah, mengapa ETLE belum efektif secara maksimal dalam mengubah perilaku masyarakat?
Salah satu faktor utama adalah kurangnya kesadaran dan edukasi. Banyak pengendara yang masih belum sepenuhnya memahami cara kerja ETLE dan jenis-jenis pelanggaran yang terdeteksi. Sosialisasi yang masif dan berkelanjutan menjadi kunci untuk mengatasi hal ini.
Ada juga masalah teknis, seperti jangkauan kamera yang masih terbatas. Pelanggar bisa saja menghindari area yang terpasang kamera ETLE. Hal ini menunjukkan bahwa sistem yang ada masih memiliki celah, sehingga ETLE belum efektif secara menyeluruh di seluruh wilayah.
Kurangnya ketegasan dalam penindakan juga menjadi penyebab. Beberapa pelanggar mungkin tidak segera menindaklanjuti sanksi yang diberikan, atau bahkan sengaja mengabaikannya. Mekanisme penegakan hukum yang lebih kuat diperlukan untuk memastikan efek jera.
Keterbatasan infrastruktur pendukung, seperti kamera yang tidak berfungsi optimal atau sistem yang sering eror, juga menghambat. Ketika sistem tidak berjalan mulus, kepercayaan publik terhadap efektivitas ETLE pun ikut menurun.
Sistem ETLE idealnya harus didukung oleh data yang terintegrasi dengan baik. Jika data kendaraan tidak diperbarui, atau data pemilik tidak akurat, penindakan menjadi sulit. Ini adalah salah satu alasan utama mengapa ETLE belum efektif di beberapa tempat.
Selain itu, masalah kultural juga berperan. Budaya mengabaikan aturan dan mencoba mencari jalan pintas masih mengakar. Perubahan perilaku ini tidak bisa terjadi dalam semalam; butuh proses panjang dan konsistensi dari semua pihak.
Masyarakat juga mengeluhkan kurangnya transparansi. Beberapa pengendara merasa sanksi yang diberikan tidak adil atau tidak jelas buktinya. Sistem yang lebih transparan dan mudah diakses akan meningkatkan kepercayaan publik.
Penerapan ETLE juga harus didukung dengan infrastruktur jalan yang memadai. Rambu-rambu yang jelas, marka jalan yang baik, dan manajemen lalu lintas yang terorganisir akan membantu pengendara untuk patuh.
Menangani pelanggaran dari hulu ke hilir adalah solusi. Selain tilang, perlu ada program edukasi bagi calon pengendara dan kampanye keselamatan berkendara yang masif. Penindakan saja tidak cukup.