Perang Banjar adalah salah satu episode paling berdarah dalam catatan historis perlawanan rakyat Nusantara. Konflik besar ini meletus pada tahun 1859 di Kalimantan Selatan sebagai reaksi keras terhadap intervensi kolonial Belanda. Pergolakan ini menunjukkan semangat juang dan pertahanan kedaulatan yang tak pernah padam.
Akar konflik tidak tunggal, melainkan berlapis-lapis. Belanda secara terang-terangan mencampuri suksesi Kesultanan Banjar, mengabaikan hak waris yang sah. Hal ini menimbulkan kemarahan mendalam, tidak hanya dari kalangan bangsawan tetapi juga masyarakat umum yang menjunjung tinggi tradisi kerajaan mereka.
Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayatullah muncul sebagai pemimpin perlawanan yang karismatik. Mereka bersatu memimpin pertempuran besar, menolak keputusan sepihak Belanda yang mengangkat Tamjidillah sebagai Sultan. Pemberontakan ini berlandaskan sentimen nasionalisme awal dan keagamaan.
Serangan pertama yang heroik dilakukan pada 18 April 1859, menandai dimulainya perang terbuka. Pasukan Banjar, didukung kuat oleh suku Dayak, menerapkan strategi gerilya yang efektif. Medan geografis Kalimantan yang berupa hutan lebat dan sungai menjadi keuntungan strategis bagi para pejuang.
Perang ini merupakan “jihad” atau perang suci bagi sebagian besar pejuang, yang semakin menguatkan tekad mereka. Semangat religius ini menjadi katalisator kuat untuk mobilisasi massa melawan kekuasaan asing. Mereka berjuang mempertahankan martabat Kesultanan Banjar dan agama Islam dari dominasi kolonial.
Meski berlangsung sengit dan menimbulkan kerugian besar di pihak Belanda, perjuangan Banjar harus menghadapi kenyataan pahit. Tertangkapnya Pangeran Hidayatullah dan wafatnya Pangeran Antasari pada tahun 1862 akibat penyakit melemahkan kekuatan utama perlawanan rakyat.
Namun, semangat perlawanan tidak sepenuhnya padam. Perjuangan gerilya terus berlanjut di berbagai daerah hingga awal abad ke-20, menunjukkan kegigihan yang luar biasa. Pergolakan Banjar ini adalah cerminan dari kompleksitas sosiologis dan politik pada masa itu.
Kilas balik Perang Banjar memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kedaulatan dan persatuan. Konflik historis ini adalah pengingat abadi akan pengorbanan para pahlawan Kalimantan dalam menjaga martabat bangsa. Pengaruhnya masih terasa hingga kini dalam ingatan kolektif masyarakat.